Maleman

[ma·lem·an]

menurut KBBI memiliki arti selamatan atau kenduri pada malam tanggal ganjil pada bulan Puasa (Ramadhan) tanggal 20-30.

Tradisi Maleman sering juga si sebut baambeng atau bakenduren yang merupakan tradisi dari Masyarakat Jawa Tondano untuk menyambut malam lailatul qadar.

Tradisi maleman atau biasanya disebut dengan selikuran ini diyakini sudah ada sejak awal penyebaran Islam oleh Wali Songo di tanah jawa. Meleman sengaja diperkenalkan kepada masyarakat jawa sebagai salah satu metode dakwah sesuai dengan adat istiadat orang jawa agar bisa diterima dengan baik.

tradisi maleman ini dilaksanakan pada malam-malam ganjil di sepertiga akhir bulan ramadhan yaitu malam 21 (selikur), 23 (telulikur), 25 (selangkung), 27 (pitulikur) dan malam 29 (songolikur) yang di yakini sebagai malam malam akan turunnya lailatul qadar, Malam seribu bulan, malam terbaik di bulan ramadhan yang mana ibadah dan amalan yang dilaksanakan pada malam itu insya Allah akan diganjar dengan pahala yang setara dengan ibadah seribu bulan.

Di Kampung Jawa Tondano Maleman dilaksanakan pada tiga malam, dengan pembagian per dua lingkungan. kesempatan pertama adalah giliran lingkungan 1 dan 2, malam ganjil berikutnya lingkungan 3 dan 4, serta lingkungan 5 dan 6 di malam ganjil selanjutnya.

Masyarakat dari lingkungan terjadwal membawa Ambeng ke mesjid sebelum waktu maghrib. Pada masa saya masih anak anak, Ambeng biasanya dikemas dalam “Anca”, yang dialasi daun lekit/laikit atau daun pisang, terdapat “sudi” yang diisi sayur “sambel goreng” atau acar, dan tentu saja ada Ayam Panggang utuh disertai serundeng yang dicampur kedelai goreng. nantinya akan dimakan bersama atau dibagikan kepada anak anak setelah sholat maghrib. para “moden” dan pala’ akan membagi bagi makanan, merobek robek ayam utuh menjadi beberapa bagian agar semua mendapat bagian yang sama. jika jumlah ambeng berkelebihan dari jumlah anak anak yang datang, ambeng akan disimpan untuk remaja dan orang tua yang mengaji setelah tarawih pada malam yang sama.

seiring perkembangan zaman dan sulitnya mencari daun lekit/laikit, masyarakat Jawa tondano mulai beralih ke kemasan plastik atau kertas untuk pengemasan ambeng, namun tetap dibawa dalam anca atau “sosiru” (nyiru).

Maleman tak hanya sekedar tradisi menyantap ambeng, tetapi adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, bersedekah, memakmurkan, beriktikaf di masjid dimalam malam akhir Ramdhan, dan tentu saja dengan doa semoga kita menjadi bagian dari orang orang yang terpilih mendapatkan berkah dari malam seribu bulan Aaaamin.

Scroll to Top